Level 5 Gunung Fuji
Untuk menikmati dan merasakan gunung
yang paling terkenal di Jepang tanpa pendakian, rombongan mengunjungi Gunung Fuji Level 5. Tempat ini
adalah spot tertinggi sebelum melakukan
pendakian. Namun, karena rombongan tidak
berniat melakukan pendakian, kami hanya berfoto ria, lalu makan ramen, habis
itu kita melihat-lihat souvenir yang lumayan mahal. Dengan bis, kami bisa
menuju Gunung Fuji Level 5 hingga stasiun Fuji Subaru Jalur 5.
Selain terkenal dengan nama Stasiun
Fuji Subaru Jalur 5, masyarakat juga biasa menyebut stasiun ini sebagai
Yoshidaguchi 5 Station atau Kawaguchiko 5 Station. Stasiun ini terletak di
sekitar titik tengah dari Yoshida Trail yang mengarah dari Fujiyoshida Sengen
Shrine ke puncak Gunung Fuji. Stasiun ini pun merupakan stasiun yang paling
populer di antara stasiun lainnya dan termasuk ke dalam transportasi terbaik
dan termudah dari Tokyo.
Pada
Stasiun Fuji Subaru 5 ini juga terdapat beberapa restoran dan toko penyewaan
alat pendakian. Meskipun tempat ini merupakan spot terakhir sebelum berangkat
pendakian, persediaan barangnya terbilang lengkap dan menawarkan harga yang
wajar, wajar untuk ukuran dompet orang Jepang ya. Beberapa barang yang biasa dijual adalah tongkat hiking, makanan ringan,
botol air, dan oksigen. Sepanjang jalan pun banyak menawarkan barang yang sama
dengan yang ada di toko. Tapi di sini tidak ada pedagang asongan yang mondar-mandir kayak di gunungTangkuban Perahu atau di Bromo.

Posisi
Gunung Fuji di Pulau Honshu , diantara dua prefektur,Shizuoka dan
Yamanashi.Gunung ini adalah gunung tertinggi di Jepang, bentuknya simetris
dengan tipe gunung strato dan puncaknya selalu diselimuti salju yang teramat
putih bersih. Ini adalah sebuah pengalaman unik, menembus Gunung Fuji walau
hanya di level 5. Udaranya sangat dingin, kita seperti berada dalam kulkas,
hampir mirip dengan udara di Adelaide Australia ketika musim dingin. Mengenai panoramanya, tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata bro, sebuah gunung yang amat megah, ngga bosan-bosannya orang memandang kehebatan gunung Fuji ini, so pasti ada yang lebih hebat dari itu , siapa lagi ? ......" Dan Kami telah menghamparkan Bumi dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung serta Kami tumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukuran" (S. Al-Hijr 19)
Sebenarnya kami berangkat jam 9.30 dari hotel menuju kaki gunung Fuji. Menggunakan Bis rombongan langsung menuju Fujinomiya 5th station . Mungkin karena tergesa-gesa, teman sekamar saya yang bernama Bunda Sahra dari NTB, lupa mengenakan jaket, bahkan beliau hanya mengenakan baju dress panjang biasa yang tidak begitu tebal. Masya Allah, bu Sahra kedinginan dan terlihat menggigil, si Bunda lebih sering sembunyi di mall. Ternyata faktor usia menjadi
penghambat peserta untuk bereksplorasi. Saya amat bersyukur karena menggunakan
jas coklat yang sering saya gunakan mengajar di kelas,ditambah pashmina yang
melilit di leher, cukuplah untuk menahan dinginnya udara Gunung Fuji.

Gunung
Jepang Fuji adalah gunung berapi aktif sekitar 100 kilometer barat daya Tokyo.
Biasa disebut "Fuji-san," ini adalah puncak tertinggi di negara itu,
di 3.776 meter. Sebuah situs ziarah selama berabad-abad, ini dianggap sebagai
salah satu dari 3 gunung suci di Jepang, dan pendakian puncak tetap menjadi
kegiatan yang populer. Profil ikoniknya adalah subjek dari banyak karya seni,
terutama Periode Edo yang dicetak oleh
Hokusai dan Hiroshige. Ketinggian: 12,388 ' Letusan terakhir: 16 Desember 1707.
Keberangkatan: 12,388 '
Pendakian pertama: 663 M.Rute termudah: Hiking.
Sebetulnya saya agak heran, koq bisa saya menyentuh salju, bahkan salju sebuah
gunung tertinggi di Jepang. Terpikirkan oleh saya, ketika kita membaca doa
Ifti’tah, ternyata ada permohonan, "Ya Allah basuhlah kesalahan-kesalahanku
dengan air, dengan salju dan dengan barad…" Saya sentuhkan tangan ini kepada
salju gunung Fuji,
wuih..ternyata dingin sekali…disini hamba bersyukur padaMu ya Allah. 
Sesampainya
di ketinggian level 5, peserta mengeksplor lingkungan sekitar, terutama tentang
sejarah letusan gunung berapi tersebut. Setelah selesai mengeksplor di kaki
gunung Fuji, rombongan menuju sebuah desa di sekitar kaki gunung Fuji yang suasananya
sangat artistic dan klasik.Namanya desa Penyembuh.
Saiko Iyashi-no-sato Nenba (Desa
Penyembuh)
Sebelum bencana angin topan pada
tahun 1966 desa ini disebut sebagai desa terindah di Jepang dengan 40 rumah
beratap jerami yang berjejer. Kondisi desa ini sudah dibangun kembali seperti
sedia kala. Melalui Stasiun Kawaguchiko bisa ditempuh 40 menit dengan bus
wisata Saiko “Green-Line” menuju Halte bus Saiko Iyashi-no-sato Nenba (Desa
Penyembuh), lalu berjalan kaki 1 menit .
 |
Di rest area , dari Gunung Fuji,menuju Nenba
|
Wilayah Nenba yang terletak di sebelah Utara Barat Saiko merupakan pemukiman bermartabat dengan rumah-rumah berat dari "Kabuto-zukuri" (beratap seperti helm prajurit samurai), sampai pada topan pada tahun 1966 menyerang daerah tersebut dengan
serius, dan menghancurkan desa tersebut. Tapi setelah lebih dari empat puluh
tahun, pemandangan atap jerami tua dengan latar belakang Mt. Fuji dihidupkan
kembali, karena "SAIKO Iyashi no sato NENBA" lahir, berakar pada
sejarah, budaya dan lingkungan alam di kawasan ini. Contoh desa seperti ini
bisa dikembangkan di desa-desa di Indonesia, seperti desa-desa di Badui Banten.
Bila wisata desa ini dikembangkan, semoga akar budaya di daerah pelosok
Indonesia tidak akan punah, bahkan berkembang menjadi model wisata baru. Dalam
hal ini,pemerintah terutama depdiknas perlu juga memfasilitasi pengembangan
akar budaya bangsa di daerah-daerah pelosok Indonesia yang belum banyak
terjamah dunia luar. Dimulai saja dahulu dari hal-hal kecil, seperti “kampung
seni” yang ada dikawasan Dago Bandung, “Saung Mang Ujo” yang melibatkan banyak
aktivitas masyarakat sekitarnya, atau daerah-daerah wisata kain seperti
“Kampung Cigondewah” kab Bandung yang mendidik warganya menjadi pebisnis kain
mulai dari tas, handuk,bad cover,hingga boneka-boneka lucu bahkan diekspor ke
manca Negara.
Aktifitas
kami di Nenba , melihat-lihat suasana desa nan asri, mencoba berfoto dengan
menggunakan kimono, bagi para pria boleh mencoba pedang Samurai sambil
menggunakan pakaian ksatria Jepang. Saya kehilangan Bunda Sahra di desa ini, eh
ternyata beliau sembunyi di bis karena kedinginan, beliau hanya bisa
menghangatkan diri dengan memakan kudapan ubi cilembu versi jepang. Kasihan si
Bunda…Beliau kehilangan dua momen indah, merasakan dinginnya puncak gunung Fuji
dan merasakan kehangatan suasana desa Nenba.
 |
Rombongan berada di desa |